Kenapa Biaya Produksi TVC Lebih Mahal Dibanding Video Digital?
- Erven Jovanka

- 13 jam yang lalu
- 3 menit membaca
Pertanyaan yang sering ditanyakan pemilik brand adalah: TVC dan video digital sama-sama bertujuan untuk mempromosikan brand, tapi kenapa harganya bisa berbeda?
Banyak aspek yang memengaruhi anggaran produksi di antara kedua format tersebut. Mulai dari kualitas hingga platform distribusi, berikut adalah 3 alasan utama di balik tingginya biaya produksi TVC.

Perbedaan Saluran Distribusi dan Ketatnya Standar Penyiaran
Saluran penyiaran televisi nasional menerapkan regulasi teknis, legalitas hukum, serta risiko biaya tayang yang sangat ketat.
Standar Teknis Audio dan Visual Penyiaran yang Sangat Spesifik
Stasiun televisi nasional menerapkan aturan teknis penyiaran yang sangat ketat. Materi TVC wajib memenuhi standarĀ audio loudnessĀ internasional agar tingkat volume suara tidak melonjak saat jeda iklan. Selain itu, warna pada TVC wajib disesuaikan dengan standar Rec. 709 agar tidak terjadiĀ distorsi warna di berbagai merk televisi penonton. Sebaliknya, video digital umumnya hanya ditayangkan di sosial media, sehingga sudah terdapat sistem kompresi otomatis yang dapat disesuaikan dengan perangkat penonton secara otomatis.
Kewajiban Legalitas LSF (Lembaga Sensor Film) dan Lisensi Hak Cipta Nasional
Sebelum dapat ditayangkan di stasiun televisi, iklan TVC wajib lolos uji kelayakan dan mengantongi Surat Lulus Sensor (STLS) dari Lembaga Sensor Film (LSF) Indonesia. Proses legalitas ini membutuhkan kelengkapan dokumen hukum, pemeriksaan konten, serta biaya administrasi resmi. Selain itu, lisensi musik serta kontrakĀ talent releaseĀ untuk TVC umumnya mencakup hak siar nasional dengan jangka tertentu. Sedangkan untuk video digital, anda tidak memerlukan berkas-berkas tersebut dan bisa langsung diunggah ke sosial media.
Biaya slot tayang (Airtime) yang tinggi memengaruhi kualitas video
Biaya slot tayang iklan (airtime) di televisi nasional pada jam sibuk (prime time) dapat dikenakan biaya cukup tinggi. Tingginya biaya yang dikeluarkan pastinya menuntut brand dan tim produksi (PH) untuk menghasilkan video berkualitas tinggi dan sangat detail, mulai dari warna produk hingga aset yang ditampilkan. Risiko finansial yang tinggi mendorong PH Ā untuk melalui prosesĀ quality controlĀ yang lebih kompleks.

2. Kompleksitas Proses Teknis, Peralatan Shooting, dan Skala Tim Produksi
Jika diperhatikan anda perhatikan, terdapat perbedaan pada kualitas visual TVC dibandingkan video digital. Hal ini terjadi akibat perbedaan kualitas kamera, sistem pencahayaan, serta jumlah tim produksi di lokasi shooting.
Penggunaan Alat Produksi Kelas Sinematik (Cinema-Grade Equipment)
Produksi TVC umumnya menggunakan kamera standar bioskop seperti ARRI, Alexa Mini, hingga RED yang dipadukan dengan lensaĀ sinematik. Selain kamera, sistem pencahayaan TVC menggunakanĀ lighting skala besar dan kompleks. Jika dibandingkan dengan produksi video digital, peralatan yang dibutuhkan sering kali lebih sederhana dengan kamera dan tata cahaya yang lebih praktis.
Jumlah tim produksi yang lebih besar
Berkaitan dengan poin sebelumnya, karena TVC membutuhkan peralatan yang lebih kompleks, jumlah kru yang diperlukan di lokasi akan lebih banyak. Kru yang terlibat dapat mencapai 50 hingga lebih dari 100 orang, yang nantinya dibagi ke dalam departemen-departemen spesifik. Setiap personel memiliki peran krusial untuk memastikan detail adegan dapat dieksekusi dengan sempurna. Jika dibandingkan dengan produksi video digital, jumlah kru memungkinkan jika kurang dari 50 orang. Walau pada akhirnya, semua kembali pada konsep video yang diajukan.

KepemilikanĀ Raw Footage dan Ukuran File Kamera Sinema
Menggunakan kamera profesional tentunya akan menghasilkan file raw berukuran besar, sehingga membutuhkan ruang penyimpanan yang sesuai. Ruang penyimpanan yang besar akan membutuhkan biaya yang besar juga.
Ekosistem pascaproduksi high end
Setelah proses shooting sudah selesai, penyelesaian materi TVC melibatkan ekosistem pascaproduksi yang lebih kompleks. Tahapan ini mencakupĀ color grading dengan colorist profesional, belum lagi jika video anda membutuhkan prosesĀ Visual Effects (VFX)Ā danĀ CGI compositing. Sebaliknya, proses pasca produksi video digital relatif lebih cepat dan efisien, sering kali diselesaikan oleh seorangĀ editorĀ yang mencangkup offline dan online editing karena umumnya hanya akan didistribusikan di sosial media.
Kapasitas data file kamera sinema
Proses pengambilan gambar untuk TVC umumnya menggunakan kamera kualitas bioskop yang merekam file dalam formatĀ uncompressed RAWĀ pada resolusi 4K. Satu hari shooting TVC dapat menghasilkan dataĀ raw footageĀ berukuran ratusan Gigabyte (GB) hingga Terabyte (TB). Hal ini membutuhkan unit pascaproduksi berspesifikasi tinggi yang mampu menimbulkan peningkatan alokasi biaya operasional.
Kesimpulan
Walau semuanya kembali kepada konsep video yang diajukan, anda harus memahami alasan di balik tingginya biaya produksi TVC adalah investasi pada kualitas visual, perlindungan reputasi merek, dan jangkauan penyiaran berskala nasional.
Karena pada akhirnya, TVC diproduksi sebagai hero content yang bertugas untuk meningkatkan kredibilitas danĀ brand awarenessĀ ke jutaan penonton dalam satu waktu.
Imajinasi adalah production house iklan asal Jakara. Jika anda masih bingung bentuk video apa yang sesuai untuk kebutuhan kampanye anda, konsultasi dengan kami secara GRATIS!
Erven Jovanka adalah seorang creative writer yang telah memenangi beberapa penghargaan dalam bidang kreatif dan penulisan. Erven dikenal karena kemampuannya dalam menganalisis brief dan menerjemahkannya menjadi karya yang menarik dan orisinal. READ MORE


